Lomba Agustusan HUT RI Ke-70



SD Bina Insan Mandiri - Dalam rangka memperingati HUT RI ke-70, Sekolah Dasar Bina Insan Mandiri, yang beralamat di Jl. Meruya Ilir Komplek Perumahan Qaryah Thayyibah Blok A, Kelurahan Srengseng, Kecamatan Kembangan, Kotamadya Jakarta Barat, lomaba di mulai hari kamis 13/8 dari pukul 07.00 s.d 11.30 WIB. 

Wakil Bag. Kesiswaan dan Anggota OSIS bekerjasama menyelenggarakan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70. Selain itu dengan adanya acara ini diharapkan peserta didik  dapat meningkatkan kreativitas serta membangun suasana kebersamaan antar guru dan siswa. Ditambah lagi kegiatan belajar mengajar tahun pelajaran 2015/2016 ini baru berjalan 2 minggu, sehingga masih banyak peserta didik baru yang belum saling mengenal, baik terhadap guru dan juga sesama teman sekelasnya. Oleh karena itu dengan adanya acara lomba 17 Agustus ini, mereka yang awalnya belum saling kenal menjadi kenal dan akrab. Dengan demikian dapat menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme dalam diri anak tersebut.

Adapun perlomba yang diperlombakan pada peringatan HUT RI ke-70 tahun 2015  terdiri dari lomba Futsal Putra dan Putri, Lomba Tarik Tambang, Lomba Tahfiz, Lomba makan Kerupuk, Lomba Bakiak, Lomba Baca Puisi, dll. Adapun lomba dimulai dari pukul 07.00 WIB semua peserta didik dan Guru SD Bina Insan Mandiri mulai berkumpul di halaman sekolah menyaksikan perlombaan, teriakan dan tawa mulai terdengar di area halaman sekolah ketika acara berlangsung.  Para guru  dan siswa terlihat antusias menyemangati para peserta lomba.

Siti Djabali Rochmah, S.Pd  selaku Kepala SD Bina Insan Mandiri menuturkan, peserta didik yang mengikuti  lomba 17 Agustusan ini, tujuan utamanya bukanlah prestasi. Tapi lebih ke arah rekreatif yang sifatnya  gembira,  menghidupkan suasana peserta didik dengan hiburan berupa perlombaan.


Praktik Tata Boga

Sdbim.sch.id - Mata pelajaran tata boga merupakan pelajaran pilihan di tingkat Sekolah Dasar khusnya SD Bina Insan Mandiri Jakarta yang berfungsi memberikan kemungkinan besar untuk akrab dengan berbagai jenis makanan dan adat kebiasaan makan serta kebiasaan diri yang akrab dengan berbagai jenis makanan dan adat kebiasaan makan ini dapat menjunjung kualitas sumber daya manusia, yang memiliki  kemampuan agar dapat mandiri dan membantu orangtua dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pembinaan mata pelajaran Tata Boga dikembangkan dengan menekankan keterpaduan antara 3 lingkungan, yaitu keluarga, sekolah dan Masyarakat. Disamping itu juga perlu diperhatikan bakat, minat dan kemampuan siswa. Pembinaan ini dapat dilakukan oleh guru kelas, tenaga ahli / nara sumber di lingkungan setempat, dengan mendorong dan memantau kegiatan yang dilakukan oleh siswa di lingkungan pendidikan keluarga dan masyarakat. Sehingga dengan demikian akan terwujud keselarasan dan kesatuan tindakan dalam pembinaanya.

Tujuan mata pelajaran tata boga adalah mempersiapkan siwa agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan perilaku untuk berperan aktif dalam melestarikan dan mengembangkan tata boga sebagai sumber budaya bangsa . Pemberian keterampilan Tata Boga melalui pendidikan perlu dimulai dari pengenalan, pemahaman, penguasaan, penerapan  sampai pembentukan etos kerja. Secara rinci tujuan penerapan muatan lokal Tata Boga adalah sebagai berikut :

  1. Memperkenalkan kepada siswa terhadap berbagai jenis makanan, cara mengolah makanan sampai adat kebiasaan makan yang dijunjung tinggi. 
  2. Memberikan kelak kemampuan dan keterampilan kepada siswa yang dapat dijadikan bekal hidup berkeluarga di masyarakat dan atau bekal melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. 
  3. Memberikan bekal kepada siswa agar dapat menolong dirinya sendiri dan membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.



Penghijauan di lingkungan sekolah



Sdbim.sch.id -  Pemanasan global kini bukan lagi isu lingkungan, melainkan fakta nyata masalah lingkungan yang  sedang terjadi. Pemanasan global menyebabkan siklus pergantian musim  menjadi sulit diprediksi. Fakta nyata dari pemanasan global ini ditandai dengan musim kemarau yang menyebabkan kekeringan dan curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir.


Aksi nyata yang dapat mencegah memburuknya kondisi lingkungan akibat pemanasan global adalah dengan memelihara dan menjaga lingkungan alam saat ini. Berbagai konsep pemeliharaan lingkungan dibentuk oleh organisasi internasional, Pemerintah dan juga komunitas di dalam negeri. Aksi nyata yang dapat dilakukan adalah penghijauan lingkungan baik di lingkungan masyarakt maupun di lingkungan sekolah sebagai sarana media pembelajaran dalam menjaga dari pemanasan global.

Lingkungan dan Ruang belajar di kelas juga dapat dijadikan medium penghijauan, seperti penataan ruangan kelas yang menempatkan furnitur untuk pot tanaman. Suasana seperti ini akan menambah kesan teduh di dalam kelas karena udara lebih segar dan siswa mendapat manfaat dari penghijaun ini.

Taman kota bisa menjadi sarana edukasi bagi siswa siswa Sekolah Dasar. Taman kota atau hutan kota menjadi laboratorium bagi anak-anak sekolah untuk belajar mengenal tanaman dan cara-cara memelihara lingkungan. Penghijauan di taman kota bermanfaat bagi tumbuh kembang anak, karena lebih dekat dengan alam dan melatih kepekaan pada lingkungan. Membawa anak ke taman kota jauh lebih bermanfaat dibandingkan membawa anak-anak bermain di dalam Mal.


Berikut beberapa manfaat penghijauan bagi lingkungan dan manusia:
  1. Penghijauan Untuk Mencegah Banjir;  
  2.  Menjaga kualitas air tanah;  
  3. Mengurangi polusi udara;  
  4. Mengurangi Dampak Hujan Asam;  
  5. Pengontrol Iklim;  
  6. Mengurangi partikel debu
  7.  Mencegah Efek Rumah Kaca
  8.  Suplai Pupuk Alam;  
  9. Pencegah Erosi
  10.  dll.

  








Praktik PLBJ

Sdbim.sch.id – Upaya melestarikan nilai-nilai luhur dalam suatu lingkungan (budaya), salah satu yang ditempuh adalah melalui pendidikan khususnya SD Bina Insan Mandiri Jakarta. Seperti halnya yang sering disampaikan dalam talkshow atau seminar-seminar, saluran ini dinilai masih eksis efektif dan tepat sasaran untuk diterapkan di masyarakat.
Jakarta, kota yang dikenal dengan metro, mega, dan keglamouran apa yang ada di dalamnya seakan tarik ulur untuk memperkuat pendidikan budaya bagi generasi penerusnya. Derasnya gelombang yang bernama globalisasi seakan semakin sulit untuk bisa dibendung lagi. Pemudanya telah jauh berkiblat pada cara dan pola hidup yang mereka anggap modern dengan meninggalkan nilai keluhuran seperti norma kesopanan, kesusilaan, tata krama, bahkan ajaran dalam agamanya. Segala sesuatu yang berbau ‘tempoe doeloe’ mereka anggap jadul dan mereka singkirkan jauh dari kehidupan.
Salah satu upaya kentara dari pemerintah untuk menghadang arus deras itu adalah dengan memasukkan subjek PLBJ (Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta) sebagai mata pelajaran wajib (muatan lokal) jenjang sekolah SD-SMP.
Sebagai contoh, pada jenjang SD kelas 5, siswa diberikan mata pelajaran PLBJ dengan submateri di antaranya: Jenis Perumahan, Cerita Mirah dan Marunda, Musik Tanjidor, Upacara Adat Nujuh Bulan, Permainan Bentengan, Kantor Perwakilan NegaraSahabat dan Kantor Lembaga Internasional, Lenong Betawi Tari Cokek, dll. Materi-materi tersebut tertuang dalam sebuah buku ajar yang digunakan dalam proses KBM di kelas.
Dalam kata pengantar buku cetak PLBJ kelas 5 SD milik salah satu penerbit dikatakan bahwa pendidikan yang tertuang dalam PLBJ mengarahkan siswa menjadi warga Jakarta yang demokratis, bertanggung jawab, dan cinta damai. Mata pelajaran ini mengkaji lingkungan alam, sosial, dan budaya di Jakarta. Secara objektif, mata pelajaran ini sarat akan pengetahuan berbasis aplikasi tentang menjaga budaya Jakarta. Tidak hanya mengetahui pernak-pernik budaya Jakarta berupa tarian maupun produksi karya, namun juga wawasan keseharian yang menuntun siswa untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungannya.

Jakarta, masih memiliki harapan. maraknya gerakan perbaikan, pembenahan, dan pelestarian kebudayaan Jakarta akan signifikan jika memang dari setiap unsur masyarakat di dalamnya sama-sama beranjak dan melangkah ke arahnya. Masyarakat, mulai peduli terhadap lingkungan. Dari hal terkecil seperti menghemat penggunaan air dan listrik, membuang sampah sembarangan, sampai pada menggunakan bahan bakar kendaraan ramah lingkungan.
Betapa pentingnya mengokohkan pendidikan ke-Jakartaan bagi masyarakat, utamanya melalui pendidikan formal. Maka, jangan biarkan PLBJ meluntur.